tripti_image_2024

Mengapa Gender Harus Menjadi Inti dari Perjanjian Plastik Global

Oleh Tripti Arora, Koordinator, IPEN South Asia Hub, Koordinator Gender IPEN

Ketika polusi plastik meningkat menjadi krisis lingkungan dan kesehatan berskala besar, dunia menyaksikan seruan yang semakin meningkat untuk melakukan tindakan yang mendesak dan komprehensif. Perjanjian Plastik Global kini sedang dalam agenda, yang bertujuan untuk mengurangi dampak racun plastik di seluruh ekosistem dan masyarakat. Namun, agar benar-benar efektif, perjanjian ini perlu mengakui dimensi yang sangat penting namun sering diabaikan: gender.

Baik karena faktor sosial maupun biologis, perempuan memikul beban paparan bahan kimia beracun dalam plastik yang tidak proporsional. Mengintegrasikan perspektif gender bukan hanya soal kesetaraan—ini adalah jalan untuk menciptakan respons yang lebih sehat, lebih efektif, dan menjangkau lebih luas terhadap polusi plastik.

Bahaya yang Terabaikan: Bahan Kimia Beracun dalam Plastik

Plastik jauh dari bahan yang netral, ia terbuat dari bahan bakar fosil, bahan kimia, dan aditif serta mengandung berbagai bahan kimia beracun, termasuk bahan kimia pengganggu endokrin (EDC) seperti ftalat, bisfenol (BPA), dan polutan organik persisten (POP). Bahan kimia ini, yang digunakan untuk membuat plastik tahan lama dan fleksibel, terlepas pada setiap tahap siklus hidup plastik—mulai dari pembuatan hingga pembuangan. Paparan EDC dikaitkan dengan masalah kesehatan serius, termasuk kanker, gangguan perkembangan, masalah kesehatan reproduksi, dan kerusakan sistem kekebalan tubuh.

Bagi wanita, ancamannya sangat parah. Penelitian menunjukkan bahwa banyak EDC yang terakumulasi dalam lemak tubuh, sehingga menimbulkan risiko yang unik bagi wanita karena persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dan tahap kehidupan seperti kehamilan, menyusui, dan menopause yang meningkatkan kerentanan terhadap racun ini. Selain itu, paparan racun ini tidak hanya berhenti pada perempuan, tetapi juga bisa menurun pada anak-anaknya, menciptakan siklus bahaya antargenerasi. Dengan bahan kimia dalam plastik yang terus menyerang ekosistem dan tubuh kita, sangat penting bagi Perjanjian Plastik Global untuk mengenali risiko spesifik gender ini.

Bagaimana Dampak Polusi Plastik terhadap Perempuan

Perempuan di seluruh dunia, dan terutama di sektor berpenghasilan rendah dan informal, secara tidak proporsional menanggung beban racun akibat plastik. Di negara-negara seperti India, jutaan perempuan bekerja dalam pengelolaan sampah—memilah, mendaur ulang, dan membuang sampah plastik, seringkali tanpa alat pelindung diri atau tunjangan kesehatan. Para pekerja ini setiap hari terpapar bahan kimia seperti penghambat api terbrominasi, dioksin, kadmium, dan timbal, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, termasuk penyakit pernapasan, kanker, dan gangguan reproduksi.

Di pabrik-pabrik manufaktur plastik, di mana plastik diproduksi, dirakit, dan diproses, perempuan sering kali menghadapi risiko kesehatan yang signifikan karena paparan bahan kimia beracun. Fasilitas-fasilitas ini sering kali tidak memiliki protokol kesehatan dan keselamatan yang ketat, sehingga membuat pekerja perempuan rentan terhadap zat-zat berbahaya seperti ftalat dan bisphenol (seperti BPA) dalam kadar yang tinggi. Penelitian telah menunjukkan bahwa paparan bahan kimia ini dapat meningkatkan risiko kanker, gangguan hormon, dan hasil kehamilan yang buruk. Selain itu, banyak perempuan juga memikul tanggung jawab untuk merawat anggota keluarga yang terkena dampak polusi, sehingga menambah paparan tidak langsung dan beban psikologis mereka.

Peran Penting Perempuan dalam Mengatasi Polusi Plastik

Dalam mengatasi krisis plastik global, kontribusi dan suara perempuan tidak hanya berharga, tetapi juga sangat diperlukan. Perempuan di banyak komunitas telah mempelopori upaya akar rumput untuk mengelola sampah, mengurangi penggunaan plastik, dan melindungi lingkungan mereka. Pekerja sampah perempuan, misalnya, memainkan peran penting dalam sistem daur ulang, namun pekerjaan mereka jarang diakui atau dilindungi. Sementara itu, organisasi yang dipimpin oleh perempuan mengadvokasi pelarangan bahan kimia berbahaya dan kebijakan yang memprioritaskan kesehatan daripada keuntungan. Mengakui perspektif unik perempuan dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan akan menghasilkan solusi yang lebih efektif, komprehensif, dan adil.

Pendekatan yang inklusif gender terhadap Perjanjian Plastik Global tidak hanya akan mengakui dampak plastik yang tidak proporsional pada perempuan tetapi juga memanfaatkan peran perempuan sebagai agen perubahan. Ketika diberdayakan, perempuan membawa perspektif yang beragam dan praktis yang dapat mengubah kebijakan. Perempuan yang bekerja di setiap tingkatan—mulai dari pengelolaan sampah informal hingga advokasi kebijakan—memiliki wawasan yang dapat memastikan langkah-langkah perjanjian didasarkan pada tantangan dan kebutuhan dunia nyata.

Bagaimana Perjanjian Plastik Global Dapat Mengatasi Masalah Gender

Agar efektif dan inklusif, Perjanjian Plastik Global harus memprioritaskan gender dengan:

  1. Mengumpulkan Data Kesehatan Spesifik Gender untuk memastikan standar mencerminkan kerentanan unik perempuan.
  2. Menegakkan Standar Kesehatan Kerja dengan perlindungan seperti penyaringan dan peralatan untuk sektor berisiko tinggi.
  3. Memastikan Representasi dalam Pengambilan Keputusan, begitu berdampak suara perempuan membentuk kebijakan.
  4. Melarang Bahan Tambahan Beracun dalam Plastik, memprioritaskan penghapusan bahan kimia berbahaya yang berdampak pada wanita dan anak-anak.
  5. Mendukung Pekerja Sektor Informal dengan perlindungan, upah yang adil, dan tunjangan sosial, yang membahas peran penting yang dimainkan perempuan dalam pengelolaan sampah.

Seruan untuk Perubahan di INC5: Jadikan Gender sebagai Prioritas

Saat kita mendekati negosiasi INC5 yang krusial, memasukkan isu gender ke dalam Perjanjian Plastik Global harus menjadi prioritas utama. Dampak plastik tidak dirasakan secara merata; perempuan sering memikul beban racun yang tidak proporsional karena peran pekerjaan dan sosial mereka. Mengabaikan hal ini akan membuat perjanjian tersebut tidak adil dan tidak efektif, serta melewatkan kesempatan penting untuk memperjuangkan kesehatan, kesetaraan, dan keadilan lingkungan.

Krisis plastik merajalela, meresap ke dalam segala hal mulai dari makanan yang kita makan hingga udara yang kita hirup. Namun, perempuan terdampak secara unik, terutama mereka yang bekerja di sektor dengan paparan tinggi seperti pengelolaan sampah dan manufaktur, di mana bahan kimia berbahaya dalam plastik mengancam kesehatan mereka dan generasi mendatang. Dengan mengintegrasikan gender ke dalam perjanjian tersebut, kita tidak hanya menciptakan kebijakan yang adil—kita membangun masa depan yang tangguh dan berkelanjutan yang berakar pada kasih sayang dan perubahan praktis.

Pertemuan INC5 mendatang menawarkan kesempatan untuk menjadi preseden bagi kebijakan lingkungan yang inklusif, yang menunjukkan bahwa kemajuan yang sesungguhnya melibatkan semua orang.

IPEN (Jaringan Penghapusan Polutan Internasional)
Ikhtisar Privasi

Situs web ini menggunakan cookie agar kami dapat memberikan Anda pengalaman pengguna terbaik. Informasi cookie disimpan di browser Anda dan menjalankan fungsi seperti mengenali Anda saat Anda kembali ke situs web kami dan membantu tim kami untuk memahami bagian situs web mana yang menurut Anda paling menarik dan berguna.